SANG PENUNDA
Cobalah lihat diri kita di cermin. Merenung sebentar. Lalu bertanya apakah kita sebagai sang penunda? Penunda pekerjaan; penunda janji; penunda pemecahan masalah; termasuk penunda menjalankan ibadah, dan lainnya? Mungkin sebagai seorang manajer pernah menunda pengusulan promosi/ Hak karyawannya. Sebagai orangtua pernah menunda anaknya untuk menyekolahkan ke perguruan tinggi. Mungkin pula sebagai bupati menunda janji-janji menarik yang pernah disampaikan dalam masa kampanye pilkada. Atau kalau sebagai dosen menunda waktu kuliah. Atau menunda mengoreksi hasil ujian atau proposal dan karya tulis mahasiswa yang bisa jadi sampai satu semester lebih. Sangatlah manusiawi, setiap orang pernah menunda sesuatu karena berbagai alasan. Misalnya pekerjaan yang membuat bosan lalu ditunda penyelesaiannya. Bisa jadi pula karena tidak yakin apakah yang akan dikerjakan akan berhasil dengan baik, maka pekerjaan itu ditunda dahulu. Ada lagi alasan lain yaitu kalau perasaan sedang dirundung malang lalu menunda pekerjaan atau pemecahan masalah. Namun ada pula yang menunda sesuatu karena ketersedian waktu dan fasilitas yang sangat kurang. Bahkan kalau pejabat, biasa mengatakan ”lebih baik kita tunda dahulu sampai ada juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk teknis)nya dari atasan”.
MARI MERENUNG APA KITA SANG PENUNDA






